Mozaik yang Hilang

Sayang sekali… kepingan mozaik itu telah kulalaikan
Dan yang lebih disayangkan lagi adalah absennya kepingan itu membuat lubang besar pada tembok yang kubangun
Ya, tembok ini. Tembok ini terlanjur tinggi
Kembali ke masa lalu, ku cari kepingan itu. Tak kutemukan
Menerawang esok yang belum jelas, keberanianku tak cukup besar
Maafkan aku…

Langkah terakhir
Izinkan kusisir kepingan itu di wajahmu
Bing!
Kepingan itu kutemukan dalam senyum tulusmu
Haruskah kuambil ia darimu?

Spring has come, fellas

Dan musim semi pun telah tiba. Bersama hangat mentari setiap pagi, disusul sapaan angin lembut siang hari, ditutup dinginnya hawa sore hingga malam. Beberapa hari ini tanah nyaris selalu dibasahi rerintik hujan, membawa salam rindu dari orang-orang tercinta nan jauh di sana. *Haduh… apa sih ni.

Well… tidak terasa. Winter sudah berlalu. Musim semi tengah mengunjungi Istanbul beberapa minggu ini. Musim yang saya tunggu-tunggu, tentunya setelah impian saya dulu untuk menyentuh salju. Sedikit meleset sebenarnya. Dulu saya bermimpi untuk menyentuh salju pertama saya di Jepang. It doesn’t matter anyway. Mungkin di winter selanjutnya saya berjodoh dengan Jepang :p.

Kembali ke musim semi. Di Turki, khususnya Istanbul, hampir di setiap taman atau area bebas aspal dapat ditemukan berbagai bunga. Indaaaahhh sekali. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah bunga yang umumnya kita kenal sebagai bunga yang identik dengan Belanda. Yuph, tulip. Saya menyukai tulip, dan lagi-lagi kenyataan meleset dari apa yang saya bayangkan. Tidak pernah terpikir bahwa saya bisa melihat keindahan tulip secara langsung dan menyentuhnya di sini, di Istanbul ini.

Di sini tulip tumbuh dan dibudidayakan dimana-mana. Saya akhirnya sampai pada pertanyaan tentang mengapa begitu banyak tulip di tempat ini. Usut punya usut, hasil dari lirik-lirik artikel sana-sini ternyata tulip memang merupakan bunga asli dari Turki. Bagaimana sejarahnya hingga akhirnya justru Belanda yang terkenal dengan bunga tulip mungkin bisa rekan-rekan cari sendiri :p. Intinya beberapa hari ini baru tahu bahwa tulip sebenarnya adalah bunga asli dari Turki.

Terakhir kali jalan-jalan di sebuah taman yang terkenal di Istanbul, yaitu Gülhane, saya melihat begitu banyak tulip. Kebanyakan sudah mekar, tapi ada pula yang masih malu-malu. Mungkin dalam beberapa hari ini kuncup-kuncup tulip itu baru akan mekar. Aiiiih… saya suka tulip, saya suka Istanbul😀.

Image

yellow tulip

(Tulip di area Baca lebih lanjut

Dia Sedang Belajar Membaca

Ini tentang seorang teman saya, Chinese. Beberapa hari lalu dia bertanya pada saya, “Kamu tinggal di rumah ya, bukan di asrama? Di sana ada program kursus Quran tidak?”. “Ya, saya tinggal di rumah. Tidak ada. Hanya ada semacam liqo”, jawab saya. Waktu itu saya tidak begitu menghiraukan pertanyaannya. Saya hanya berpikir bahwa mungkin jika ada program semacam itu maka dia ingin tinggal di rumah, dan program kursus yang dia maksud pun ternyata berbeda dengan yang saya tangkap. Saya kira program yang dia maksud adalah program dimana dia bisa belajar tafsir Al quran. Baru kemarin saya tahu bahwa yang dia maksud adalah program belajar membaca Al quran.

Ada perasaan iba bersama senang ketika Baca lebih lanjut

Yes, I’m Indonesian

Baru baca artikel tentang hal-hal yang membuat warga Jepang merasa dirinya asli warga Jepang. Jawaban mereka unik-unik. Jadi terpikir apa yang membuat saya merasa asli warga Indonesia. Hmm…
Alasan-alasannya bisa jadi tidaj seluruhnya merupakan hal yang positif, baik dari sudut pandang saya atau pun orang lain. Beberapa hal yang membuat saya merasa asli warga Indonesia, terutama sejak saya tinggal di Istanbul, di antaranya:
1. Ketika saya bangun paling awal, sebelum shubuh. Atau ketika saya tidur paling cepat (ssbelum tengah malam). Hmm.. Akhir-akhir ini saya mulai biasa terjaga hingga lewat tengah malam😦.
2. Ketika selalu ada nasi di meja makan, tidak peduli itu pada jam sarapan, makan siang atau pun makan malam🙂. Di sini lazimnya nasi disajikan pada jam makan malam. Itu pun tidak bisa diharapkan ada setiap hari. Ok,,, di sini beras memang mahal. Tapi sepertinya bukan itu penyebab utamanya orang-orang di sini tidak makan nasi. *Setelah ini mau googling kenapa orang Eropa umumnya jarang makan nasi😆
3. Ketika mandi merupakan
Baca lebih lanjut

This time.. Masakannya

Have a look, guys🙂.

image

See? Begitulah kurang lebih menu makan malas saya selama di sini. Belum ekstrem sih. Kalau lagi super malas bisa cuma makan roti oles selai -__-‘. Kalau lagi good mood biasanya masak nasi goreng spesial palsu atau tumis kentang ala kadarnya. Bingung juga sih mau masak apa. Bumbu-bumbu di sini masih terasa asing buat saya. Ini yang kuning-kuning pipih rasanya kayak apa ya? Yang bubuk-bubuk kuning kehijauan buat nambah rasa apa? Blablablablabla🙄. Yang tau cuma bumbu universal semisal garam, gula, merica, cabe. Oh ya, tiba-tiba kepikiran.. Kayaknya di sini saya belum pernah melihat
Baca lebih lanjut

Turki dan Gempa (?)

Kemarin siang ceritanya saya diajak keliling (bukan keliling juga sih) kampus sama temen orang sini. Setelah jalan cukup jauh, kami berlabuh (haha,,) di sebuah ruangan yang penuh dengan komputer. Haduh… Sebenarnya ini prolog ga penting banget ya, tapi sayang juga kalau dihapus begitu saja😆. Ok! Ujungnya sebenarnya saya mau cerita tentang obrolan bersama dua OT (i.e. Orang Turki) di ruangan tadi.
Tema obrolan kami adalah: Indonesia, gempa dan Turki. Awalnya saya dikenalkan oleh teman saya ke temannya, nama dan asal saya. “Here she is. She’s from Endonezya”, papar teman saya. Temannya teman saya lantas bilang “Haa.. Endonezya.. Tsunami ya..”. Dalam hati: -__-“. Dari situ obrolan
Baca lebih lanjut

Orang Turki itu…

Jadi, ceritanya ini adalah hari ke-13 saya di Istanbul. Tidak terasa, benar-benar tidak terasa. Entah karena di sini waktu berjalan lebih cepat atau entah karena saya berjalan semakin cepat #apadeh. But for sure, 13 hari itu benar-benar berlalu dengan sangat cepat.

Saya termasuk tipe manusia (:lol:) yang mampu bermimikri dengan cepat (:lol: again). Lingkungan baru, suasana baru, citarasa makanan baru… semuanya terasa baik-baik saja, bahkan sangat baik. Entah kenapa saya tidak menemukan ketidaknyamanan yang beberapa teman saya rasakan. Ada yang tidak betah lah, mau pulang lah, mau ngancel beasiswa lah, bla bla bla… Pengalaman yang kurang menyenangkan tentu pernah dialami oleh siapa pun itu yang baru move on ke lingkungan baru. Kali ini tidak ada bagian sharing pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan itu, malu… haha.. Anyway, apa pun itu hal buruk atau kurang menyenangkan yang terjadi, just stay still. Semuanya akan berlalu kok😀. Kesuksesan itu ada buat orang-orang yang mampu dan mau bertahan di jalan yang tidak mudah. Iya ga? hehe…

Di episode kali ini saya mau sharing beberapa hal yang saya lihat, amati dan pelajari dari orang Turki😀. Maybe someday Baca lebih lanjut