Lost in Turkey: Introduction (#1)

Jadi.. ceritanya saya ingin mengabadikan moment2 perjuangan yang saya lalui hingga saat ini, hingga saya bisa ada di titik penantian menuju keberangkatan ke negerinya Om Erdogan. Penting ga sih? Penting aja deh ya.. haha.. Siapa tahu ada yang bisa mengambil hikmah dan manfaat dari tulisan ini, someday :mrgreen:. Soalnya saya juga lumayan sering mendapat pengetahuan baru dari tulisan di beberapa blog, tentang pengalaman2 penulisnya sebelum, ketika atau setelah berkelana di negeri orang :-).

Dari dulu, salah satu cita-cita saya memang ingin belajar buat S2 atau S3 ke luar nagreg, eh negeri. I don’t know why exactly, tapi pernah baca tulisan kayak gini:

“I beg young people to travel. If you don’t have a passport, get one. Take a summer, get a backpack and go to Delhi, go to Saigon, go to Bangkok, go to Kenya. Have your mind blown. Eat interesting food. Dig some interesting people. Have an adventure. Be careful. Come back and you’re going to see your country differently, you’re going to see your president differently, no matter who it is. Music, culture, food, water. Your showers will become shorter. You’re going to get a sense of what globalization looks like. It’s not what Tom Friedman writes about; I’m sorry. You’re going to see that global climate change is very real. And that for some people, their day consists of walking 12 miles for four buckets of water. And so there are lessons that you can’t get out of a book that are waiting for you at the other end of that flight. A lot of people—Americans and Europeans—come back and go, Ohhhhh. And the light bulb goes on.”
–Henry Rollins

Inspiratif banget deh. Iya ga? hehe..
Tulisan ini saya baca sekitar empat bulan lalu sih, jauh sejak saya punya mimpi untuk menggembel di negeri orang :lol:. Intinya, makin kuatlah kenekadan saya saat itu, dari yang tadinya sempat ragu. Gimana ga ragu coba??? Pergi ke negeri orang, ngegembel, jauh dari ibu bapak, jauh dari temen2 pelipur lara (haha..), ga bisa makan seenak di Indonesia, susah ini susah itu… >.<. Rasanya pengen ganti kepala deh kalau mikirin itu semua. But… semua itu buyar seketika ketika kita meminta keyakinan dari Alloh, dan percayai bahwa mau tidak mau kita memang sebenarnya harus selalu siap untuk meninggalkan apa pun, termasuk segala yang kita cintai dan segala yang selama ini membuat kita bergantung pada mereka #ngedadaksokbijak.

Selain itu, satu hal yang menguatkan saya untuk memilih jalan ini adalah keinginan untuk dewasa, mandiri dan berkembang. Okehhhh.. Saya akui selama ini saya memang belum bisa dewasa, haha… Saya juga percaya bahwa kedewasaan itu merupakan proses evolusi, bukan revolusi. Ada proses panjang yang harus dilalui, tentunya bukan proses yang senang2 :p haha.. Karena itu saya memilih jalan ini, berpayah untuk menang, menang untuk diri saya sendiri.

Sudah pernah baca bukunya Muhammad Assad “Notes from Qatar”?. Pada bagian Author’s Note beliau menulis seperti ini: “There is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone. I must leave my comfort zone to grow”. Wiih… gue banget nih.. Langsung standing ovation waktu itu, haha.. Ok, kalau Mas Assad memilih untuk tumbuh di Qatar, maka saya memilih di Turki :mrgreen:. Eh, tapi ini bukan berarti saya berpikir bahwa saya tidak bisa “tumbuh” di negeri sendiri, apalagi meremehkan negeri tercinta ini. Saya pikir, di sini saya cenderung selalu “manja”, dan bisa gawat kalau seperti ini terus.

Semoga ini keputusan terbaik.
Negeriku, aku pergi untuk kembali dengan berjuta ilmu dan kekayaan yang akan kujadikan sumbangsih terindah untukmu.

Well.. atos heula nya :grin:.
-Bersambung

Iklan

4 thoughts on “Lost in Turkey: Introduction (#1)

  1. amazingg kk … semangat yah, wah kau tinggalkan daku disini donk :D.
    cita-citamu sungguh tinggi tdak sperti driku ini. slmat yah bisa ke turky.. ditunggu kisahnya yah 🙂

  2. Masya Allah,
    berawal dari kepenasaran sy ttg osmosis, eh ‘nyasar’ k sini d saat emg sy lg pngen blajar d Turki 🙂
    suatu kbetulan yg indah..
    salam kenal,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s