Berusaha saja(lah)

Pernah denger pepatah ini: “Don’t try so hard. The best things come when you least expect them to“?. Dalam beberapa kasus hidup saya belakangan ini, pepatah tersebut sepertinya berlaku. Ketika saya nyaris lupa atau sudah tidak lagi mengharapkan sesuatu yang sebelumnya begitu saya inginkan justru sesuatu itu terjadi. Pun sebaliknya, ketika saya sangat mengharapkan sesuatu itu terjadi justru tidak terjadi, huhu.. Ini terjadi pada saya di akhir minggu kemarin, dimana sesuatu yang saya perjuangkan dalam waktu yang cukup panjang ternyata tidak membuahkan hasil. Apa mungkin usaha saya terlalu keras? -__-‘ Tapi bukankah sebagai manusia kita dianjurkan untuk berupaya semaksimal mungkin dalam kebaikan?! #tariknapaspanjang #istighfar

Ok. Mungkin Baca lebih lanjut

Sosok Teladan #1

Meneladani Rosululloh.. Itulah yang selalu terpancar dari keseharian beliau.
Sejauh saya mengenal ibu ini, pribadinya membuat saya merasa tenang berada di dekatnya.
Satu hal yang tidak akan saya lupakan dari beliau.. Beliau adalah orang yang gemar menyambung silaturohim dan tak pernah ingkar janji.
Sesibuk apa pun beliau selalu ada waktu untuk menjaga komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Pribadi ibu ini kiranya hanya Baca lebih lanjut

Bermain Peran

Tidak mudah memutuskan untuk berubah, menjadi seseorang yang berbeda atau bahkan asing bagi diri kita sendiri. Kebiasaan yang lama melekat tentu tak dapat dengan mudahnya kita tanggalkan. Belum lagi pertimbangan-pertimbangan tentang pendapat yang mungkin akan muncul dari orang-orang di sekitar kita. Fiuhhh… cape memang kalau hidup ini sebagian digunakan untuk memikirkan citra kita di mata orang lain. Baca lebih lanjut

Malu(lah)…

Dangkal… pemahaman dan cara saya memahami sesuatu masih ternyata masih sangat sangat sangat dangkal. Awalnya saya percaya pada yang namanya “kebetulan” dan mengumbar kata “mungkin” terhadap diri saya sendiri. Ketika persepsi saya tentang sesuatu berbeda dengan orang lain, tak ada tindak lanjut dari itu. Saya menganggap itu hal yang wajar dan hak bagi setiap orang untuk mengisi kepalanya dengan apa pun yang ia anggap benar. Tidak jarang keangkuhan membuat saya dalam hati berkata bahwa persepsi saya lebih benar dan logis. Sungguh angkuh makhluk-Mu ini, Tuhan..

Sepertinya saya melewatkan banyak pelajaran dalam dua dekade ini, Baca lebih lanjut

Do’a Malam Ini

Tuhan,,
malam ini, sebelum aku memejamkan mata, izinkan aku untuk mengucap beberapa do’a..

Bersihkan hatiku dari kebencian sehalus apa pun, pada siapa pun,
Mampukan aku untuk melupakan segala perih hari ini,
Ingatkan selalu aku pada mereka yang begitu cantik hatinya, mampukan aku untuk membalas segala kebaikannya,
Karuniakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang yang kukasihi tersenyum,
Damaikan dan bersihkan jiwaku esok hari,,,

Tuhan,, Baca lebih lanjut

Inilah Alasan Rosulullah Melarang Ummatnya Minum Sambil Berdiri

Repost dari sini. Insya allah bermanfaat 🙂

Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri”. Dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh

sfinger. Sfinger adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.

Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum sambil berdiri. Air yang kita minum otomatis masuk tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika menuju kandung kemih itu terjadi pengendapan di saluran speanjang perjalanan (ureter). Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter inilah awal mula munculnya bencana.

Betul, penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang sungguh berbahaya. diduga diakibatkan karena Susah kencing, jelas hal ini berhubungan dengan saluran yang sedikit demi sedikit tersumbat tadi. Baca lebih lanjut

Hanya ada satu jalan

Sindrom ini sebenarnya sudah bersarang dalam keseharian saya sejak beberapa bulan lalu. Sindrom ini semakin menggila sejak saat itu, ketika begitu banyak kabar duka datang dari teman hingga saudara saya, kabar meninggalnya orang tua dari yang bersangkutan.

Ah.. sejak saat itu setiap sms hingga panggilan dari orang rumah selalu memacu kecemasan saya, antara ketakutan dan kepasrahan. Saya sadar betul bahwa saya belum siap jika harus ditinggal oleh kedua orang tua bahkan salah satunya pun. Bukan semata-mata karena saya masih bergantung pada mereka, tapi karena perasaan ini… perasaan takut karena belum sempat berbakti dan membahagiakan apalagi membanggakan mereka, perasaan takut karena belum cukup permohonan maaf saya pada mereka atas segala kedurhakaan yang pernah saya perbuat.

“Semoga ada kabar bahagia, bukan kabar duka”, nyaris selalu seperti itu do’a saya dalam hati setiap membuka sms atau mengangkat telepon dari orang rumah.

Tuhan… Salahkah aku? Apakah ketakutanku ini berlebihan?

Baca lebih lanjut