Dia Sedang Belajar Membaca

Ini tentang seorang teman saya, Chinese. Beberapa hari lalu dia bertanya pada saya, “Kamu tinggal di rumah ya, bukan di asrama? Di sana ada program kursus Quran tidak?”. “Ya, saya tinggal di rumah. Tidak ada. Hanya ada semacam liqo”, jawab saya. Waktu itu saya tidak begitu menghiraukan pertanyaannya. Saya hanya berpikir bahwa mungkin jika ada program semacam itu maka dia ingin tinggal di rumah, dan program kursus yang dia maksud pun ternyata berbeda dengan yang saya tangkap. Saya kira program yang dia maksud adalah program dimana dia bisa belajar tafsir Al quran. Baru kemarin saya tahu bahwa yang dia maksud adalah program belajar membaca Al quran.

Ada perasaan iba bersama senang ketika Baca lebih lanjut

Malu(lah)…

Dangkal… pemahaman dan cara saya memahami sesuatu masih ternyata masih sangat sangat sangat dangkal. Awalnya saya percaya pada yang namanya “kebetulan” dan mengumbar kata “mungkin” terhadap diri saya sendiri. Ketika persepsi saya tentang sesuatu berbeda dengan orang lain, tak ada tindak lanjut dari itu. Saya menganggap itu hal yang wajar dan hak bagi setiap orang untuk mengisi kepalanya dengan apa pun yang ia anggap benar. Tidak jarang keangkuhan membuat saya dalam hati berkata bahwa persepsi saya lebih benar dan logis. Sungguh angkuh makhluk-Mu ini, Tuhan..

Sepertinya saya melewatkan banyak pelajaran dalam dua dekade ini, Baca lebih lanjut

Kembar 7

Pernah mendengar mitos (atau apa pun itu) tentang adanya kembaran-kembaran (lebih tepatnya mirip atau sangat mirip) kita di dunia ini yang jumlahnya ada enam orang? Berarti ada tujuh orang yang mirip untuk tiap wajah di dunia ini. Mereka bisa sezaman dan bisa juga tidak. Misal yang satu hidup hari ini, yang ke dua hidup beberapa tahun lalu, yang ke tiga hidup pada abad 19, sisanya pada zaman prasejarah, hehe…

Terlepas dari itu benar atau tidak, tapi benar memang, kita memiliki kembaran-kembaran—bukan kembaran saudara kandung maksudnya, bukan juga kembar identik— di dunia ini. Tapi saya tidak yakin dengan jumlah kembaran kita yang ada enam orang itu, heu…

Mungkin beberapa teman, saudara atau guru kita bahkan pernah mengatakan bahwa kita mirip dengan seseorang, orang yang seumuran dengan kita, lebih muda atau pun lebih tua. Pernah??? Saya kira kebanyakan pernah, he… *maksa 😆

Katanya kita punya enam kembaran, enam orang dengan rupa yang mirip dengan kita. Saya sudah menemukan dua orang di antaranya yang mirip dengan saya (sebenarnya beberapa orang yang bilang saya mirip dia, atau dia mirip saya, halah…). Itu artinya ada empat orang lagi yang belum saya temukan, dan misi ini harus dijalankan *loh? 😆

Tuhan menciptakan kita dengan khas. Tentu, itu benar. Kembar identik sekali pun tidak 100% sama. Tapi inti yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah bahwa kita tidak sepatutnya berbangga diri atas kondisi kita, fisik terutama, apalagi merasa eksklusif (dalam artian yang negatif loh ya… :mrgreen: ).

Bentuk tubuh kita tidaklah penting. Rupa kita pun tidak begitu penting. Hati kitalah yang terpenting… 🙂

 

Mari Berhitung

Berapa banyak waktu yang kita GUNAKAN untuk TIDUR?

Berapa banyak waktu yang kita GUNAKAN untuk BERSANTAI?

Berapa banyak waktu yang kita LUANGKAN untuk BELAJAR/BEKERJA?

Berapa banyak waktu yang kita LUANGKAN untuk BERIBADAH?

 

Adakah yang salah?

Ya, itu adalah pertanyaan untuk kita yang selama ini melupakan hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas. Hal-hal yang tersier justru mendapat porsi yang besar dalam agenda harian kita. Sementara yang utama malah mendapat jatah sisa dari waktu yang kita punya.

Mari kita balik pertanyaannya…

Baca lebih lanjut

Di balik Kaki Burung

kaki burung

Sahabat, pernahkah Sahabat memperhatikan burung-burung ciptaan Allah? Mungkin Sahabat pernah iseng (saya sulit menemukan kata yang lain :mrgreen: ) melakukan hal tersebut atau mungkin justru Sahabat memang senang melakukannya sebagai salah satu bentuk pencurahan hobi Sahabat dalam ‘membaca’ segala sesuatu. Tapi sebenarnya walaupun Sahabat belum pernah melakukan apa yang saya ungkapkan di atas insyaAllah Sahabat akan tetap bisa memahami hal yang akan saya sampaikan selanjutnya. ^^

Jika kita perhatikan kaki-kaki burung, ukurannya amatlah kecil, bukan? Apalagi kaki dari burung seperti kutilang, pipit, atau burung-burung kecil lainnya. Diam berarti setuju, ya… (hehe…).

Baca lebih lanjut