RINDUKU DI LAUTAN

Matahari meninggi
Kian terik saja di sini
Riak air,  kicau beburung
Membuka jalan menuju senja

Amat luas sekitaran
Melepas pandangan, hmm… tak berujung
Jemu, aku hilang

Aku iri pada ombak
Ketika dengan mesranya ia cium bibir pantai
Ah…
Masih jauh

Iklan

Malu(lah)…

Dangkal… pemahaman dan cara saya memahami sesuatu masih ternyata masih sangat sangat sangat dangkal. Awalnya saya percaya pada yang namanya “kebetulan” dan mengumbar kata “mungkin” terhadap diri saya sendiri. Ketika persepsi saya tentang sesuatu berbeda dengan orang lain, tak ada tindak lanjut dari itu. Saya menganggap itu hal yang wajar dan hak bagi setiap orang untuk mengisi kepalanya dengan apa pun yang ia anggap benar. Tidak jarang keangkuhan membuat saya dalam hati berkata bahwa persepsi saya lebih benar dan logis. Sungguh angkuh makhluk-Mu ini, Tuhan..

Sepertinya saya melewatkan banyak pelajaran dalam dua dekade ini, Baca lebih lanjut

Sungai

Kita adalah sungai,

aku sungai,

kamu sungai,

dia sungai,

mengalir mengikuti alur yang telah digariskan,

kadang lurus,

namun lebih banyak berliku,

begitulah cara laut menjemput,

lebih banyak buih akan kita temui di sana,

ombak hingga badai harus dihadapi,

alur ini tidak berarti apa-apa,

nikmatilah,

ambillah manfaat dalam perjalanan.