Spring has come, fellas

Dan musim semi pun telah tiba. Bersama hangat mentari setiap pagi, disusul sapaan angin lembut siang hari, ditutup dinginnya hawa sore hingga malam. Beberapa hari ini tanah nyaris selalu dibasahi rerintik hujan, membawa salam rindu dari orang-orang tercinta nan jauh di sana. *Haduh… apa sih ni.

Well… tidak terasa. Winter sudah berlalu. Musim semi tengah mengunjungi Istanbul beberapa minggu ini. Musim yang saya tunggu-tunggu, tentunya setelah impian saya dulu untuk menyentuh salju. Sedikit meleset sebenarnya. Dulu saya bermimpi untuk menyentuh salju pertama saya di Jepang. It doesn’t matter anyway. Mungkin di winter selanjutnya saya berjodoh dengan Jepang :p.

Kembali ke musim semi. Di Turki, khususnya Istanbul, hampir di setiap taman atau area bebas aspal dapat ditemukan berbagai bunga. Indaaaahhh sekali. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah bunga yang umumnya kita kenal sebagai bunga yang identik dengan Belanda. Yuph, tulip. Saya menyukai tulip, dan lagi-lagi kenyataan meleset dari apa yang saya bayangkan. Tidak pernah terpikir bahwa saya bisa melihat keindahan tulip secara langsung dan menyentuhnya di sini, di Istanbul ini.

Di sini tulip tumbuh dan dibudidayakan dimana-mana. Saya akhirnya sampai pada pertanyaan tentang mengapa begitu banyak tulip di tempat ini. Usut punya usut, hasil dari lirik-lirik artikel sana-sini ternyata tulip memang merupakan bunga asli dari Turki. Bagaimana sejarahnya hingga akhirnya justru Belanda yang terkenal dengan bunga tulip mungkin bisa rekan-rekan cari sendiri :p. Intinya beberapa hari ini baru tahu bahwa tulip sebenarnya adalah bunga asli dari Turki.

Terakhir kali jalan-jalan di sebuah taman yang terkenal di Istanbul, yaitu Gülhane, saya melihat begitu banyak tulip. Kebanyakan sudah mekar, tapi ada pula yang masih malu-malu. Mungkin dalam beberapa hari ini kuncup-kuncup tulip itu baru akan mekar. Aiiiih… saya suka tulip, saya suka Istanbul :grin:.

Image

yellow tulip

(Tulip di area Baca lebih lanjut

Iklan